Poin-Poin Utama:
- PPI yang tinggi gagal mengangkat dolar karena imbal hasil turun.
- Dolar AS tetap lemah meski laporan PPI tinggi, karena penurunan imbal hasil Treasury dan penguatan euro membatasi momentum kenaikan.
- Euro menguat karena optimisme atas pembicaraan perdamaian Ukraina, menekan dolar, sementara komentar tarif Trump menambah ketidakpastian.
- PPI Januari naik 0,4%, melampaui perkiraan, tetapi reaksi pasar obligasi terbatas karena trader menanti data PCE yang lebih lembut.
- DXY tetap bearish di bawah resistensi teknis kunci.
Dolar Kesulitan Naik Meski PPI Tinggi, Imbal Hasil Turun, dan Euro Menguat
Dolar AS gagal mendapatkan daya tarik pada Kamis meskipun ada laporan inflasi lain yang menunjukkan harga produsen lebih tinggi dari perkiraan. Penurunan imbal hasil Treasury dan penguatan euro membatasi kenaikan dolar, karena trader menilai langkah berikutnya dari Federal Reserve dan menunggu indikator inflasi utama, yaitu indeks Pengeluaran Konsumsi Pribadi (PCE).
PPI Naik, tapi Reaksi Pasar Obligasi Terbatas
Laporan terbaru Indeks Harga Produsen (PPI) menunjukkan kenaikan bulanan 0,4% pada Januari, melampaui perkiraan kenaikan 0,3%. PPI inti, yang tidak termasuk makanan dan energi, naik 0,3%, sesuai dengan perkiraan. Namun, beberapa trader melihat detailnya kurang mengkhawatirkan, terutama komponen konsumsi pribadi, yang hanya naik 0,3%, jauh lebih rendah dari kenaikan 0,7% pada Desember.
Imbal hasil Treasury, yang melonjak setelah data Indeks Harga Konsumen (CPI) yang tinggi pada Rabu, turun meskipun ada kejutan PPI. Imbal hasil Treasury 10 tahun turun 7 basis poin menjadi 4,559%, sementara imbal hasil 2 tahun turun 4 basis poin menjadi 4,318%. Reaksi pasar obligasi menunjukkan bahwa trader menantikan data PCE yang lebih lembut, yang dapat mendukung kasus Fed untuk pemotongan suku bunga.
Kekuatan Euro Menekan Dolar

Euro menguat terhadap dolar, menyentuh level tertinggi satu minggu di 1,0440 sebelum sedikit turun. Optimisme atas potensi kesepakatan perdamaian di Ukraina memberikan dorongan pada mata uang tunggal ini. Namun, kekhawatiran tetap ada tentang lanskap geopolitik yang lebih luas, terutama ketidakhadiran pemimpin Eropa dalam pembicaraan yang sedang berlangsung.
Menambah tantangan dolar, komentar mantan Presiden AS Donald Trump tentang tarif timbal balik yang akan datang memicu ketidakpastian. Meskipun ketegangan perdagangan secara historis mendukung dolar sebagai safe haven, trader tetap waspada terhadap efek inflasi dari tarif baru.
Ekspektasi Pemotongan Suku Bunga Fed Tetap Jadi Faktor Kunci
Meskipun data inflasi lebih tinggi dari perkiraan, pasar masih mengantisipasi pemotongan suku bunga pada tahun ini. Ketua Fed Jerome Powell menegaskan bahwa meskipun inflasi belum mencapai target 2% Fed, bank sentral tidak terburu-buru menyesuaikan kebijakan. Pasar berjangka saat ini memprediksi sekitar 29 basis poin pemotongan suku bunga pada akhir tahun, turun dari 37 basis poin sebelum rilis CPI.
Selain itu, analis Citi memperkirakan indeks PCE inti akan naik hanya 0,22% pada Januari, turun dari 0,45% pada Desember. Jika dikonfirmasi, ini akan menurunkan tingkat inflasi tahunan menjadi 2,5%, memperkuat ekspektasi bahwa tekanan inflasi mereda, meskipun secara bertahap.
Prospek Teknis: Level Kunci yang Perlu Diperhatikan

Indeks Dolar AS (DXY) tetap berada di bawah tekanan, diperdagangkan di bawah rata-rata bergerak 50-hari di 107,984 dan level pivot kunci di 108,068. Penjual tetap mengendalikan kecuali indeks dapat merebut kembali level-level ini.
Gerakan berkelanjutan di atas 108,523 dapat menggeser momentum mendukung kenaikan, sementara penurunan di bawah 107,296 kemungkinan akan menandakan penurunan lebih lanjut. Trader akan memantau data ekonomi mendatang, terutama laporan PCE, untuk konfirmasi pandangan inflasi Fed.









