Poin Penting:
- Harga emas bertahan di dekat level tertinggi sepanjang masa akibat kekhawatiran perang dagang dan risiko inflasi yang mendorong permintaan aset safe-haven. Apakah $3.000 menjadi target berikutnya?
- Tarif balasan yang diberlakukan Trump memicu ketidakpastian, meningkatkan permintaan emas sebagai lindung nilai terhadap ketidakstabilan ekonomi.
- Data inflasi yang tinggi membuat The Fed tetap berhati-hati, menunda potensi pemangkasan suku bunga, sehingga memengaruhi pergerakan harga emas di masa depan.
- Penurunan penjualan ritel AS mengisyaratkan perlambatan ekonomi, menimbulkan pertanyaan tentang daya beli konsumen dan kebijakan The Fed selanjutnya.
- Data inflasi PCE yang akan datang dapat menentukan arah harga emas selanjutnya—apakah tekanan harga akan mempertahankan reli atau memicu koreksi?
Harga Emas Bertahan di Level Tertinggi, Didukung Ketegangan Perdagangan dan Risiko Inflasi

Harga emas masih berada di sekitar level tertingginya sepanjang masa, melanjutkan reli selama beberapa minggu terakhir seiring dengan meningkatnya minat investor terhadap aset safe-haven sebagai perlindungan dari ketidakpastian ekonomi. Tekanan inflasi yang terus berlanjut, kekhawatiran terhadap kebijakan perdagangan AS, serta perubahan ekspektasi terhadap kebijakan suku bunga The Fed menjadi faktor utama yang menjaga daya tarik emas.
Secara teknikal, tren harga emas masih cenderung naik. Jika emas berhasil menembus level $2.942,78, tren bullish diperkirakan akan berlanjut. Sementara itu, level support terdekat berada pada titik pivot $2.739,81.
Namun, pasar saat ini sudah mengalami reli selama tujuh minggu berturut-turut, sehingga rentan terhadap potensi pembalikan arah (bearish) jika terjadi penutupan harga yang lebih rendah di akhir pekan.
Pada pekan lalu, harga emas (XAU/USD) ditutup di level $2.882,48, naik $21,23 atau sekitar +0,74%.
Kekhawatiran Perang Dagang Masih Menopang Permintaan Emas
Kekuatan harga emas minggu ini didorong oleh meningkatnya ketegangan perdagangan setelah Presiden AS, Donald Trump, menandatangani perintah eksekutif yang menargetkan kebijakan perdagangan negara asing. Kebijakan ini menerapkan tarif balasan kepada negara yang memberlakukan pajak terhadap impor AS, sehingga memunculkan kekhawatiran akan terjadinya konflik perdagangan berkepanjangan.
Meskipun Trump belum menerapkan tarif tersebut secara langsung, langkah ini sudah cukup untuk menambah ketidakpastian di pasar global. Kondisi ini mendorong harga emas karena investor khawatir dengan potensi aksi balasan dari negara mitra dagang utama dan dampak negatif yang mungkin timbul terhadap perekonomian global.
Data Inflasi Memperkuat Kekhawatiran Tekanan Harga
Laporan inflasi terbaru di AS menunjukkan kenaikan harga yang lebih tinggi dari perkiraan. Indeks Harga Konsumen (CPI) naik 0,5% pada bulan Januari, melebihi ekspektasi pasar. Sementara itu, inflasi produsen yang diukur melalui Indeks Harga Produsen (PPI) tercatat meningkat 3,5% secara tahunan. Kedua data tersebut memperkuat kekhawatiran bahwa tekanan inflasi masih berlanjut dan dapat membuat The Fed tetap berhati-hati dalam menurunkan suku bunga.
Namun, beberapa bagian dari laporan inflasi tersebut memberikan indikasi bahwa data Personal Consumption Expenditures (PCE) yang akan dirilis nanti mungkin menunjukkan hasil yang lebih lemah. Indeks PCE adalah indikator inflasi yang menjadi acuan utama The Fed. Para pelaku pasar akan mencermati data ini untuk mendapatkan gambaran lebih jelas mengenai arah inflasi ke depan.
Penurunan Penjualan Ritel Memunculkan Keraguan Terhadap Pertumbuhan Ekonomi
Penjualan ritel AS secara tak terduga turun 0,9% pada bulan Januari, lebih buruk dari perkiraan yang hanya turun 0,2%. Meski angka penjualan bulan Desember direvisi naik, data yang lebih lemah dari ekspektasi ini menimbulkan kekhawatiran terhadap kekuatan belanja konsumen, yang merupakan pendorong utama pertumbuhan ekonomi AS.
Data ini menyebabkan penurunan imbal hasil obligasi pemerintah AS (Treasury), yang sedikit meredakan kekhawatiran terkait potensi overheating ekonomi. Namun, imbal hasil obligasi masih tetap tinggi dibandingkan awal tahun, mencerminkan ketidakpastian pasar terhadap langkah kebijakan The Fed ke depan.
Proyeksi Harga Emas: Bias Bullish Bertahan, Data Inflasi Tetap Jadi Faktor Kunci
Tren kenaikan harga emas secara umum masih terjaga, didukung oleh risiko perang dagang dan kekhawatiran inflasi yang mendorong permintaan aset safe-haven. Meskipun data penjualan ritel yang lemah sedikit mengurangi kekhawatiran terhadap pengetatan agresif kebijakan The Fed, data inflasi PCE yang akan datang tetap menjadi faktor penentu pergerakan harga emas selanjutnya.
Jika data inflasi menunjukkan tanda-tanda mereda, harga emas mungkin akan mengalami tekanan di level saat ini. Namun, jika tekanan harga tetap tinggi dan ketidakpastian terkait perdagangan terus berlanjut, harga emas berpotensi melanjutkan kenaikan. Para pelaku pasar disarankan untuk tetap mencermati laporan ekonomi dan pernyataan The Fed sebagai panduan dalam memprediksi arah pergerakan harga emas ke depan.









