Poin Utama:
- Harga emas hampir mencapai rekor tertinggi di $2.954,96 karena meningkatnya permintaan aset safe-haven akibat kebijakan tarif Presiden AS Donald Trump.
- Kebijakan perdagangan agresif Trump meningkatkan daya tarik emas, dengan Goldman Sachs menaikkan target harga menjadi $3.100 per ons.
- Kebijakan suku bunga stabil dari Federal Reserve (The Fed) memperkuat daya tarik emas, dengan investor menanti data inflasi PCE yang diperkirakan naik 0,3%.
- Data ekonomi AS, termasuk kepercayaan konsumen dan penjualan rumah baru, dapat memengaruhi sentimen pasar emas.
- Risiko geopolitik, termasuk kemungkinan pembicaraan damai AS-Rusia, dapat mempengaruhi aliran investasi ke emas minggu depan.
Emas Bertahan Dekat Rekor Tertinggi Harga Emas
(XAU/USD) ditutup pada $2.936,26 pekan lalu, mencatat kenaikan 1,87% dan memperpanjang reli mingguan kedelapan berturut-turut. Logam mulia ini mencapai rekor tertinggi $2.954,96 pada Kamis sebelum mengalami koreksi pada Jumat karena aksi ambil untung investor. Meskipun ada sedikit penurunan, momentum bullish emas tetap kuat, didorong oleh meningkatnya permintaan aset safe-haven akibat kebijakan perdagangan AS dan kekhawatiran inflasi.
Kebijakan Tarif Trump Dorong Permintaan Emas
Kebijakan perdagangan agresif Presiden Trump menjadi faktor utama lonjakan harga emas. Proposal terbaru Trump mencakup tarif 25% untuk impor otomotif, semikonduktor, dan farmasi, serta bea baru untuk kayu dan produk hutan. Tarif sebelumnya, termasuk 10% pada impor dari China dan 25% pada baja dan aluminium, telah menambah ketidakpastian ekonomi, mendorong investor beralih ke emas sebagai lindung nilai terhadap ketidakstabilan pasar. Goldman Sachs pun menaikkan target harga emas menjadi $3.100 per ons pada akhir tahun.
Kebijakan The Fed Dukung Daya Tarik Emas sebagai Aset Safe-Haven
Pendekatan hati-hati The Fed terhadap kebijakan moneter juga memperkuat harga emas. Risalah pertemuan Januari The Fed mengindikasikan kebijakan suku bunga stabil di kisaran 4,25% – 4,5%, dengan kekhawatiran inflasi yang dipicu oleh tarif perdagangan Trump. Dengan bank sentral yang enggan menurunkan suku bunga, aset non-yielding seperti emas tetap menjadi pilihan utama investor. Fokus pasar saat ini tertuju pada data Personal Consumption Expenditures (PCE) Core yang akan dirilis pekan depan, yang dapat memengaruhi sentimen terkait inflasi dan kebijakan suku bunga.
Dampak Geopolitik dan Data Ekonomi Terhadap Sentimen Pasar
Selain kebijakan perdagangan, risiko geopolitik dan data ekonomi juga menjadi faktor penting bagi prospek emas. Potensi pembicaraan damai AS-Rusia yang mungkin diselenggarakan oleh Arab Saudi dapat memengaruhi aliran investasi ke aset safe-haven. Sementara itu, rilis data ekonomi AS, termasuk kepercayaan konsumen, penjualan rumah baru, dan angka inflasi, dapat mempengaruhi kebijakan The Fed. Indikator ekonomi yang kuat dapat memengaruhi performa emas jika mengubah ekspektasi pasar terkait perubahan suku bunga.
Prospek Pasar: Tren Bullish Berlanjut dengan Fokus pada Data PCE

Secara teknikal, tren utama emas masih naik, dengan target psikologis di $3.000. Permintaan aset safe-haven yang kuat, didorong oleh ketegangan perdagangan AS dan risiko inflasi, mendukung potensi kenaikan lebih lanjut. Pekan depan, investor akan mencermati data inflasi inti PCE, yang diperkirakan meningkat 0,3%.
Selain itu, data kepercayaan konsumen AS pada Selasa dan penjualan rumah baru pada Rabu juga akan menjadi perhatian utama karena dapat memengaruhi sentimen pasar dan kebijakan The Fed. Jika data PCE menunjukkan tekanan inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan, daya tarik emas sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi dan ketidakpastian ekonomi akan semakin meningkat. Dengan latar belakang makroekonomi saat ini, emas berada dalam posisi kuat untuk melanjutkan kenaikan seiring dengan meningkatnya permintaan akan stabilitas dan perlindungan terhadap inflasi.
Secara teknis, harga emas tetap berada dalam tren naik. Jika berhasil menembus level $2.954,96, tren bullish akan berlanjut. Sebaliknya, koreksi harga dapat membawa emas turun ke level support di $2.745,91 dalam jangka pendek.









